PeteronganViral

Keracunan MBG Jombang Diselidiki, Dinkes Temukan Kandungan Berbahaya di Makanan

Kadisnkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, didampingi Korwil BGN Jombang, Deni Setiawan.
(Sumber: Kabar Jombang)

 Jombang - Kasus dugaan keracunan yang menimpa puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, mulai menemukan titik terang setelah hasil uji laboratorium resmi diumumkan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan zat berbahaya serta cemaran bakteri pada sejumlah sampel makanan dan air yang dikonsumsi para santri.

Baca Juga: Buka Puasa Berubah Mencekam! 31 Santri di Jombang Mendadak Keracunan

Dari hasil uji tersebut, ditemukan kandungan nitrit pada sampel telur asin yang menjadi bagian dari menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Zat ini secara normal tidak seharusnya terdapat dalam makanan karena berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti mual, muntah, hingga gangguan pencernaan.

Selain itu, pemeriksaan juga mengungkap tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air yang digunakan di lingkungan pesantren, baik untuk memasak maupun mencuci. Kadar bakteri tersebut dilaporkan mencapai lebih dari 1.000 per mililiter, padahal secara standar seharusnya tidak ada kandungan E. coli dalam air bersih.

Tak hanya itu, dari sampel muntahan korban juga ditemukan bakteri Bacillus cereus, yang dikenal dapat menyebabkan keracunan makanan. Namun demikian, Dinkes belum dapat memastikan secara pasti sumber utama kontaminasi karena tidak semua jenis makanan yang dikonsumsi santri diuji dalam pemeriksaan.

Dinkes menyebutkan bahwa fokus pengujian sementara meliputi telur asin, rawon, air, serta sampel muntahan. Dari hasil tersebut, telur asin diduga menjadi salah satu faktor pemicu, meskipun tidak semua santri yang mengonsumsinya mengalami gejala serupa.

Baca Juga: Kapolres Jombang Resmikan SPPG Kemala Bhayangkari, Langkah Nyata Perkuat Ketahanan Gizi Warga

Adapun keberadaan nitrit dalam makanan diduga berkaitan dengan proses penyimpanan yang kurang baik atau kualitas bahan baku yang tidak terjaga. Sementara itu, tingginya kandungan bakteri dalam air menunjukkan perlunya perbaikan sistem sanitasi di lingkungan pesantren.

Sebagai langkah tindak lanjut, Dinkes Jombang telah memberikan pembinaan kepada pihak pengelola pondok, termasuk peningkatan sanitasi serta perbaikan sistem penyaringan air guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Pihak terkait juga melakukan evaluasi terhadap penyedia makanan dalam program MBG, sementara operasional dapur yang terlibat dihentikan sementara untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut.